UKK berakhir, seperti baru bebas dari penjara rasanya. Soal2 yang melelahkan otak, hilang sirna. Sudah tidak ada urusan dgn pengawas2 yang "killer". Tak akan ada lagi ketegangan, setidaknya untuk beberapa minggu ini.
Hari2 akan menjadi lebih berwarna setelah UKK. Bisa OL seharian, nonton TV seharian, bahkan bisa tidur seharian. Tapi, kalo keseringan bermalas2 an, jatohnya jadi bosen sendiri. Mending diselingi oleh kegiatan2 yang bermanfaat, seperti Outbound, OlahRaga, Gathering komunitas, atau kalo mau lebih rileks lagi, bisa dtg ke tempat SPA.
Tapi buat yang REMEDIAL, hati2. Simpan energi untuk belajar. Gak usah sering2 seperti saat UKK, cukup dikit2 aja.
Welcome To My Blog
Selamat datang di adyo-adyo.blogspot.com
Minggu, 12 Juni 2011
Kamis, 09 Juni 2011
5 Alasan Mengapa UKK (Ulangan Kenaikan Kelas) Jadi Hal yang Menyeramkan Bagi Siswa
5 alasan mengapa UKK (Ulangan Kenaikan Kelas) jadi hal yang menyeramkan bagi siswa:
1. UKK merupakan beberapa hari yang melelahkan pikiran
Maksudnya, saat UKK kita harus belajar lebih intensif, mengatur waktu lebih cermat, dan tentunya menjawab soal dengan teliti, sampai2 mengatur strategi menyontek yang akan dipakai. Dan semua itu memakan lebih banyak energi ketimbang hari2 biasanya.
2. UKK dianggap sebagai hari tanpa bersenang-senang
Maksudnya, banyak siswa yang harus meninggalkan kesenangannya saat UKK. Dengan maksud supaya lebih banyak waktu untuk belajar. Padahal kalau kita bisa mengatur waktu dengan cermat, hal ini tidak akan terjadi.
3. Materi yang di ulangan kan bisa dibilang banyak
Mungkin inilah yang menjadi kendala utama saat UKK. Padahal jika kita belajar lebih intensif pada hari2 biasa, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi.
4. Posisi Menentukan Prestasi, Begitu Pula Pengawas
Hal ini adalah sesuatu yang sulit dihilangkan dari pikiran siswa. Mereka akan lebih tenang dalam ulangan, jika mendapatkan tempat duduk di belakang. Apalagi ditambah dengan pengawas yang "baik". Hal itu adalah salah. Walaupun duduk di belakang, jika kita tidak hafal materi2 yang di ulangan kan, percuma saja. Yang menjadi andalan terakhir, hanyalah berharap akan mendapat pengawas yang "baik".
5. Mengapa harus ada UKK?
Mengapa harus ada UKK? Mungkin pertanyaan inilah yang sering ada di pikiran siswa. Apakah tidak bisa diambil dari nilau Ulangan Harian saja? Atau dari Tugas2? Hal yang seharusnya disadari oleh siswa adalah UKK merupakan evaluasi belajar selama 1 tahun di sekolah. Jika tidak ada evaluasi, bagaimana kita mengetahui kemampuan kita?
1. UKK merupakan beberapa hari yang melelahkan pikiran
Maksudnya, saat UKK kita harus belajar lebih intensif, mengatur waktu lebih cermat, dan tentunya menjawab soal dengan teliti, sampai2 mengatur strategi menyontek yang akan dipakai. Dan semua itu memakan lebih banyak energi ketimbang hari2 biasanya.
2. UKK dianggap sebagai hari tanpa bersenang-senang
Maksudnya, banyak siswa yang harus meninggalkan kesenangannya saat UKK. Dengan maksud supaya lebih banyak waktu untuk belajar. Padahal kalau kita bisa mengatur waktu dengan cermat, hal ini tidak akan terjadi.
3. Materi yang di ulangan kan bisa dibilang banyak
Mungkin inilah yang menjadi kendala utama saat UKK. Padahal jika kita belajar lebih intensif pada hari2 biasa, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi.
4. Posisi Menentukan Prestasi, Begitu Pula Pengawas
Hal ini adalah sesuatu yang sulit dihilangkan dari pikiran siswa. Mereka akan lebih tenang dalam ulangan, jika mendapatkan tempat duduk di belakang. Apalagi ditambah dengan pengawas yang "baik". Hal itu adalah salah. Walaupun duduk di belakang, jika kita tidak hafal materi2 yang di ulangan kan, percuma saja. Yang menjadi andalan terakhir, hanyalah berharap akan mendapat pengawas yang "baik".
5. Mengapa harus ada UKK?
Mengapa harus ada UKK? Mungkin pertanyaan inilah yang sering ada di pikiran siswa. Apakah tidak bisa diambil dari nilau Ulangan Harian saja? Atau dari Tugas2? Hal yang seharusnya disadari oleh siswa adalah UKK merupakan evaluasi belajar selama 1 tahun di sekolah. Jika tidak ada evaluasi, bagaimana kita mengetahui kemampuan kita?
Jumat, 03 Juni 2011
Uniknya Indonesia
Gan, untuk mengawali segment “Uniknya Indonesia” kali ini, gue bakal bercerita ttg pangalaman gue.
Hari jumat, 3 Juni 2011. Gue ama temen gue naek motor boncengan. Temen gue lagi gak pake helm tuh. Trus, die liat ada polisi yg bawa motor juga, ngebut kaya yg lagi ngejar maling. Gue langsung ngerasa berdosa karena gue bawa org yg gak pake helm.
Biar masalah gak tambah ruwet, gue minggir aja. Eh, tuh polisi malah nyusul gue layaknya Jorge Lorenzo lagi balapan, otomatis tuh ide gokil gue keluar. Gue disitu langsung ambil kecepatan awal, baru 60km/jam tuh polisi udah gue susul. Dia bales lebih kenceng lagi. Gue kira yg sekarang beneran mau nilang gue, eh ternyata dia malah sengaja mepet2 in motornya die ke motor gue.
Gue yang udah kesel lsg aja ambil inisiatif buat tambah kecepatan jadi 80km/jam. Guenya yg lagi HOKI ato tuh polisi yg BEGO yah? Tuh polisi malah nyusul gue, trus pergi gitu aja (ya minimal klakson kek).
Itulah Uniknya Indonesia.
Hari jumat, 3 Juni 2011. Gue ama temen gue naek motor boncengan. Temen gue lagi gak pake helm tuh. Trus, die liat ada polisi yg bawa motor juga, ngebut kaya yg lagi ngejar maling. Gue langsung ngerasa berdosa karena gue bawa org yg gak pake helm.
Biar masalah gak tambah ruwet, gue minggir aja. Eh, tuh polisi malah nyusul gue layaknya Jorge Lorenzo lagi balapan, otomatis tuh ide gokil gue keluar. Gue disitu langsung ambil kecepatan awal, baru 60km/jam tuh polisi udah gue susul. Dia bales lebih kenceng lagi. Gue kira yg sekarang beneran mau nilang gue, eh ternyata dia malah sengaja mepet2 in motornya die ke motor gue.
Gue yang udah kesel lsg aja ambil inisiatif buat tambah kecepatan jadi 80km/jam. Guenya yg lagi HOKI ato tuh polisi yg BEGO yah? Tuh polisi malah nyusul gue, trus pergi gitu aja (ya minimal klakson kek).
Itulah Uniknya Indonesia.
Selasa, 31 Mei 2011
Renungan
Di suatu hari, ada seorang pria tua yang sedang dicukur, ti tempat cukur langganannya. Karena sudah akrab, mereka pun mengobrol, namun ditengah obrolan itu, si tukang cukur berkata, "Pak, kalau menurut saya, tuhan itu tidak ada. Kalau pun ada, tidak akan ada orang yang sengsara, semua pasti sejahtera"
Pak tua itu pun tidak mau menjawab, karena takut akan menjadi masalah. Setelah selesai bercukur, pak tua melihat anak muda yang rambutnya kotor, dan tidak terurus. "Hai anak muda. Kau tahu, sebenarnya tukang cukur itu tidak ada. Kalau pun ada, rambutmu tidak akan seperti ini." Kata pak tua.
Perkataan pak tua tadi terdengar oleh si tukang cukur. "Siapa yang berani berbicara seperti itu? Oh, ternyata kau pak tua. Bicara apa kau tadi?" Kata si tukang cukur.
"Aku berkata bahwa sebenarnya tukang cukur itu tidak ada. Hanya itu saja. Memangnya kenapa?"
"Kau lupa ya, aku baru saja mencukurmu tadi."
"Lantas, mengapa rambut pemuda itu sangat kotor? Kalau tukang cukur itu ada, rambutnya tidak akan seperti itu."
"Itu adalah salahnya. Kenapa dia tidak datang padaku dan memintaku untuk mencukurnya?"
"Tepat sekali."
"Apa maksudmu?"
"Tuhan itu sebenarnya ada, tapi tidak semua orang datang dan mendekat padanya. Sama seperti tukang cukur. Tukang cukur itu ada, tapi tidak semua orang mendatanginya. Kau mengerti?"
Setelah mendengar jawaban dari pak tua, si tukang cukur itu menarik kata-katanya kembali.
Pak tua itu pun tidak mau menjawab, karena takut akan menjadi masalah. Setelah selesai bercukur, pak tua melihat anak muda yang rambutnya kotor, dan tidak terurus. "Hai anak muda. Kau tahu, sebenarnya tukang cukur itu tidak ada. Kalau pun ada, rambutmu tidak akan seperti ini." Kata pak tua.
Perkataan pak tua tadi terdengar oleh si tukang cukur. "Siapa yang berani berbicara seperti itu? Oh, ternyata kau pak tua. Bicara apa kau tadi?" Kata si tukang cukur.
"Aku berkata bahwa sebenarnya tukang cukur itu tidak ada. Hanya itu saja. Memangnya kenapa?"
"Kau lupa ya, aku baru saja mencukurmu tadi."
"Lantas, mengapa rambut pemuda itu sangat kotor? Kalau tukang cukur itu ada, rambutnya tidak akan seperti itu."
"Itu adalah salahnya. Kenapa dia tidak datang padaku dan memintaku untuk mencukurnya?"
"Tepat sekali."
"Apa maksudmu?"
"Tuhan itu sebenarnya ada, tapi tidak semua orang datang dan mendekat padanya. Sama seperti tukang cukur. Tukang cukur itu ada, tapi tidak semua orang mendatanginya. Kau mengerti?"
Setelah mendengar jawaban dari pak tua, si tukang cukur itu menarik kata-katanya kembali.
Minggu, 29 Mei 2011
Are You Teaching?
One day, James went to China. He didn’t know the location of the school, so he asks the chinesse man.
“Good morning sir, do you know the school location?” Ask James
“Yes I do. Just straight ahead and turn left.” Answer the chinesse man
“Thank you sir.”
James walked far enough and finally he stops in front of the school yard. He didn’t know anybody there, because he was new in China. So he asked to the other chinesse man.
“Good afternoon sir. Are you teaching here?” Ask James
“Yes sir, I’m teaching.” Answer the chinesse man
“So it means that you are a teacher, right?”
“No sir, I’m not a teacher.”
“But you are teaching here, right?”
“Yes sir, I’m teaching. But I’m not a teacher.”
“But you are teaching here, right?!” Ask James badly
“Yes sir, my name is Tea - Ching. My father is ching, and my mom is Wu - Ching” Answer the chinesse man.
“Good morning sir, do you know the school location?” Ask James
“Yes I do. Just straight ahead and turn left.” Answer the chinesse man
“Thank you sir.”
James walked far enough and finally he stops in front of the school yard. He didn’t know anybody there, because he was new in China. So he asked to the other chinesse man.
“Good afternoon sir. Are you teaching here?” Ask James
“Yes sir, I’m teaching.” Answer the chinesse man
“So it means that you are a teacher, right?”
“No sir, I’m not a teacher.”
“But you are teaching here, right?”
“Yes sir, I’m teaching. But I’m not a teacher.”
“But you are teaching here, right?!” Ask James badly
“Yes sir, my name is Tea - Ching. My father is ching, and my mom is Wu - Ching” Answer the chinesse man.
HERMAN JEUNG AMIN
Dina hiji desa, aya sapasang tani anu hirup dina kawatiran. Maranehna teu acan dipasihan putra ku anu maha kawasa. Maranehna miharep, yen engke bakal dipasihan putra, Anu tiasa mupus kapedihan dina hate. Tapi sanes eta wungkul masalahna teh. Artos hasil tatanen teh teu cukup kanggo ngabiayaan hirup mun engke gaduh putra. Teu aya nu daek ngabantosan, masihan artos, komo deui anu meserkeun sembako. Tatanggina oge taya nu paduli.
“Pak, iraha urang teh gaduh putra? Abdi mah bosen pak, kahoyong mah gaduh putra anu bakalan sukses. Teu jiga urang. Tapi kunaon gusti teu masihan urang putra pak? Kunaon pak?” Saur Ibu.
“Sing sabar weh nya bu. Gusti the nuju masihan cobian ka urang. Lamun bari ambek-ambekan mah makin moal dipercanten ku gusti pikeun gaduh putra.” Tembal Bapak.
“Tapi rek nepi iraha hirup urang teh kieu wae pak? Mun geus kieu mah geus moal bias nanaon deui.” Ibu tuluy mangkat bari ngambek.
Si salaki ogé hanjelu nempo pamajikanana berkelakuan kawas éta, saraya ngomong, “Enya pangéran, sabarkanlah haté kami, kami percaya cobaan ieu bisa kami liwatan, alatan kau moal méré cobaan anu ngaleuwihan pangabisa hamba-mu.”
Maranéhanana ogé megatkeun baris usaha kalayan éstuning-éstuning ambéh maranéhanana dipasihan anak ku pangéran. Henteu sabaraha lila, sanggeus berikhtiar kalayan éstuning-éstuning, merekapun dipasihan sapasang orok lalaki kembar. Maranéhanana diaranan Herman sarta Amin. Tapi nyaah, pakasaban maranéhanana anu ngan hiji-hijina, kapaksa ditalantarkeun demi ngurus buah haté maranéhanana. Sarta pamustunganana maranéhanana terlena jeung kasinugrahan anu pangéran bikeun ka maranéhanana. Maranéhanana mitembeyan usaha deui maranéhanana ti enol.
Seiring jeung wayah leumpang, usaha maranéhanana ngaronjat, Herman sarta Amin ogé tumuwuh badag. Maranéhanana bisa sakola kawas barudak séjénna. Awalna maranéhanana minder alatan maranéhanana ngan asalna ti kulawarga miskin. Tapi, sanajan maranéhanana asalna ti kulawarga miskin, maranéhanana bisa berprestasi ngaleuwihan babaturanana anu leuwih sanggup dina sagi materi. Maranéhanana ogé meunangkeun beasiswa anu saterusna dipaké pikeun mantuan kolot maranéhanana.
Kagumbiraan si Pamajikan anu nempo barudakna tumuwuh badag ogé sirna. Sang salaki anu salila ieu marenganana ngurus Herman sarta Amin geus euweuh. Manéhna nalangsara panyakit anu pohara parna. Herman sarta Amin ogé kiwari jadi anak yatim. Tanaga pamajikan jadi andalan utama pikeun mengais rejeki. Herman sarta Amin ogé kapaksa meluangkan wayah maranéhanana sanggeus bersekolah pikeun digawé mantuan indungna. Maranéhanana pantang nyerah mantuan indung maranéhanana néangan napakah. Hal éta maranéhanana pigawé ambéh maranéhanana tetep bisa bersekolah.
Pamajikan sok meratapi nasibna sarta kulawargana, “Enya pangéran, naha kau jadikan hirup kami kawas ieu? Tunjukkeun dina kami sipat Maha Pengasih-mu enya pangéran. Pak, naha engkau kudu indit leuwih tiheula? Padahal kami di dieu masih pohara merlukeun anjeun.” Saur Pamajikan.
Sang pamajikan ogé pamustunganana pegat asa sarta leuwih milih pikeun mungkas hirupna. Kasedihan Herman sarta Amin ogé beuki nambahan. Henteu ngan kaleungitan kadua kolotna, tapi maranéhanana ogé kapaksa ngandeg sakola keur nyambung hirup. Tapi pangéran ngomong séjén. Henteu lila sanggeus Indungna Herman sarta Amin maot, aya hiji yayasan panti asuhan anu daék méré jaminan atikan sarta kaséhatan pikeun Herman sarta Amin.
Teu karasa maranéhanana geus lulus SD, maranéhanana lulus bari peunteunna alus. Sarta aya saurang balabah anu daék mengadopsi maranéhanana. Jelema éta téh Pak Broto, saurang pangusaha anu pohara suksés, tapi hanjakalna manéhna sarta pamajikanana henteu dipasihan anak. Herman sarta Amin kalayan gumbira narimana. Pak Broto sarta pamajikanana pohara reueus miboga anak kawas Herman sarta Amin. Maranéhanana mangrupa siswa berprestasi di sakolana. Pak Broto sarta pamajikanana sok ngawowoy Herman sarta Amin. Tapi sanajan kitu, Herman sarta Amin henteu terlena jeung kahirupan maranéhanana ayeuna.
Maranéhanana sok kainget baris jasa-jasa kolotna anu geus euweuh. Maranéhanana henteu kungsi ngamangpaatkeun kakayaan kolot angkat maranéhanana sacara kaleuleuwihan. Maranéhanana sok teringat-ingat kahirupan maranéhanana anu tiheula, hirup anu pinuh perjuangan, penderitaan, sarta kesabaran. Kolot anu sok ngawowoyna, kiwari geus euweuh.
“Min, sabenerna urang ieu jelema anu boga untung atawa rugi?” Tanya Herman dina Amin.
“Kuring ogé bingung kak, urang boga untung di adopsi ku jelema beunghar, tapi urang ogé rugi, sabab urang yatim pahatu.” Jawab Amin
“Lamun dititah milih, naha manéh milih kahirupan anu ayeuna, atawa anu tiheula?”
“Kuring pilih kahirupan anu tiheula.”
“Kunaon maneh milih kahirupan anu tiheula? Padahal tiheula éta urang jelema hésé, miskin, teu boga nanaon.”
“Tapi kahirupan urang anu tiheula laér leuwih bagja kak. Sanajan urang jelema miskin, tapi urang bagja hirup babarengan kolot kandung urang.”
“Lamun kuring leuwih milih kahirupan anu ayeuna Min. Ayeuna urang berkecukupan, daék naon ancik ménta dina ayah téré urang. Batan kahirupan urang tiheula, miskin, tunggara. Ayeuna kuring leuwih bagja Min.”
Saprak percakapan éta, Herman jadi terlena dina kakayaan ayah téréna éta. Béda kalayan adina, Amin masih bsa ngadalikeun diri sabot dirina dihadapkan dina kakayaan anu melimpah. Amin sok kainget dina kahirupanana tiheula, ku kituna manéhna henteu boga wayah pikeun mikiran kakayaanana.
Wayah ogé ngagulundung, 12 warsih berlalu, Herman sarta Amin geus berkeluarga. Maranéhanana hirup terpisah ayeuna. Sarta kiwari Pak Broto geus ngasupan umur senja, Fisikna ogé geus teu saalus tiheula, tong boro pikeun jalan-jalan, nangtung ogé manéhna geus teu sanggup. Dina hiji sabot, Herman sarta Amin babarengan kulawargana menjenguk ayah angkat maranéhanana Pak Broto.
“Teu karasaeun, ayah geus membesarkan maranéh nepi ka maranéh suksés ayeuna. Nak, ayah ieu geus kolot, ayah geus mustahil mingpin pausahaan ayah. Ayah baris serahkeun kakawasaan ayah dina anjeun, Herman. Sarta pikeun Amin, baris ayah bikeun taneuh salega 7 hektar. Kau bisa menanaminya buah atawa sayuran. Lamun kau daék, kau bisa ngawangun hiji hal diditu.” Kecap Pak Broto
“Mangga yah, kuring baris mingpin pausahaan ayah kalayan sebaik-baiknya. Pamustunganana kuring bisa mingpin pausahaan ayah.” Jawab Herman
“Alus ayah, kuring baris ngalaksanakeun amanat anjeun.” Jawab Amin
“Nak, jagalah amanat ayahmu alus-alus. Saéstuna teu aya deui anu bisa manéhna banggakan sajaba maranéh, anak anu shaleh. Ibu ménta dina maranéh, ngan maranéh harepan penerus kulawarga ieu.” Kecap Ibu Broto.
Teu lila sanggeus éta, tétéla pangéran menghendaki Pak Broto pikeun balik ka sisi-nya. Kaayaan kahanjelu ogé pohara karasaeun waktu éta. Ibu Broto pohara hanjelu begitupun jeung Herman sarta Amin. Maranéhanana teu kawasa nahan haru. Ayah angkat maranéhanana kudu ninggalkeun maranéhanana pikeun selama-lamanya.
“Enya pangéran, naha kau cokot salaki kuring? Kami di dieu masih merlukeunana.” Ratap Ibu Broto.
“Ayah, ulah tinggalkeun kami. Kami masih perlu bimbinganmu.” Kecap Herman.
“Sudahlah kak, urang teu sakuduna menangisi kepergian ayah. Tangisan mah ngan baris nyieunana resah di alam ditu.” Jawab Amin.
Alatan Ibu Broto geus pegat asa, mangka manéhna megatkeun pikeun cicing di panti jompo, alatan manéhna henteu hayang merepotkan Herman sarta Amin. Herman sarta Amin ogé hirup terpisah ayeuna. Teu aya deui tempat tujuan pikeun ngariung kawas baheula. Geus ampir 1 warsih Herman sarta Amin henteu silih papanggih. Maranéhanana ngan berbincang ngaliwatan pesawat telepon sapanon.
Herman ngarasa kurang jeung pausahaan anu ayah angkatnya bikeun. Manéhna hayang ngawasa sakumna harta kakayaan Pak Broto. Jeung haté anu terselimuti napsu, Herman boga rencana pikeun ngarebut kakayaan adina sorangan, Amin. Manéhna boga rencana membangkrutkan usaha Amin demi niat jahatnya.
“Jigana aya dua pilihan pikeun ngarebut kakawasaan Amin. Membangkrutkan usahana atawa maéhanana.”
Di séjén tempat, Amin masih berduka. Alatan bapana cikénéh maot. Manéhna henteu mikiran pakasabanana. Kebon anu dibikeun Pak Broto mimitian angar alatan Amin henteu ngurusna. Waktu Amin baris ngurus balik kebonna, ujug-ujug datanglah Herman.
“Hey Min, tempo kebon anjeun, geus ampir angar alatan kau ngan menangisi kepergian ayahmu. Leuwih alus bikeun kebon anjeun ka kuring.” Kecap Herman
“Tapi ieu amanat ayah angkat urang kak.” Jawab Amin
“Manéhna geus euweuh Min. Manéhna moal weruh lamun kau méré kabunmu dina kuring.”
“Tapi kak.”
“Ulah loba ngomong kau Min. Percuma kau ngabéla kebon anjeun ieu. Ayah angkatmu baris beuki hanjelu lamun kau teu bisa merawatnya.”
Alatan Amin henteu hayang aya perselisihan , manéhna kapaksa ngéléhan dina lanceukna. Manéhna mikeun kebon éta sapinuhna dina Herman. Kakayaan Herman ogé nambahan loba. Tapi hanjakalna, manéhna tacan ngarasa cukup kalayan naon anu manéhna dapatkan ayeuna. Manéhna boga rencana pikeun maéhan Amin sarta memuatkan surat wasiat palsu anu eusina yén sakumna kakayaan Amin baris dibikeun dina lanceukna, Herman. Niat jahat Herman beuki jadi sabot nyaho Amin keur gering parna.
“Ayeuna waktuna kau mati Amin. Kau teu pantas jadi jelema beunghar. Akulah anu pantas.”
Manéhna saterusna datang ka tempat di mana Amin dirawat. Awalna manéhna hamham dina ngajalankeun niatna. Tapi, panon haténa geus digelapkan ku gemerlapnya kakayaan dunya. Tanpa mikir, Herman langsung maéhan Amin, adi kembarnya sorangan anu salila ieu ngajalanan paitna kahirupan babarengan. Manéhna menghujamkan péso anu geus diolesi racun langsun ka jantung Amin. Amin ogé langsung maot di tempat.
“Pamustunganana kuring bisa ngawasa sakumna kakayaan anjeun Min. Kuring teu nyangka, ngan perlu saeutik tanaga pikeun melenyapkanmu. Sarta ayeuna, kuring junun nyingkahkeun anjeun.” Kedal Herman kalayan songong.
Pembunuhan éta teu kaungkab salila sawatara lila. Tapi Herman mimitian dihantui rasa boga salah anu amat dina ka Amin. Hirupna mimitian teu tenang. Sok aya bayangan mangsa leutikna babarengan Amin.
“Amin, maafkan lanceuk. Lanceuk geus dibutakan ku gemerlapnya kakayaan dunya. Lanceuk hanjakal Min.”
Sarta dina pamustunganana Herman megatkeun pikeun méré sakumna hartana pikeun jalma-jalma anu kurang sanggup. Sarta manéhna mikeun dirina ka pulisi luhur perkara pembunuhan ka Amin.
“Pak, iraha urang teh gaduh putra? Abdi mah bosen pak, kahoyong mah gaduh putra anu bakalan sukses. Teu jiga urang. Tapi kunaon gusti teu masihan urang putra pak? Kunaon pak?” Saur Ibu.
“Sing sabar weh nya bu. Gusti the nuju masihan cobian ka urang. Lamun bari ambek-ambekan mah makin moal dipercanten ku gusti pikeun gaduh putra.” Tembal Bapak.
“Tapi rek nepi iraha hirup urang teh kieu wae pak? Mun geus kieu mah geus moal bias nanaon deui.” Ibu tuluy mangkat bari ngambek.
Si salaki ogé hanjelu nempo pamajikanana berkelakuan kawas éta, saraya ngomong, “Enya pangéran, sabarkanlah haté kami, kami percaya cobaan ieu bisa kami liwatan, alatan kau moal méré cobaan anu ngaleuwihan pangabisa hamba-mu.”
Maranéhanana ogé megatkeun baris usaha kalayan éstuning-éstuning ambéh maranéhanana dipasihan anak ku pangéran. Henteu sabaraha lila, sanggeus berikhtiar kalayan éstuning-éstuning, merekapun dipasihan sapasang orok lalaki kembar. Maranéhanana diaranan Herman sarta Amin. Tapi nyaah, pakasaban maranéhanana anu ngan hiji-hijina, kapaksa ditalantarkeun demi ngurus buah haté maranéhanana. Sarta pamustunganana maranéhanana terlena jeung kasinugrahan anu pangéran bikeun ka maranéhanana. Maranéhanana mitembeyan usaha deui maranéhanana ti enol.
Seiring jeung wayah leumpang, usaha maranéhanana ngaronjat, Herman sarta Amin ogé tumuwuh badag. Maranéhanana bisa sakola kawas barudak séjénna. Awalna maranéhanana minder alatan maranéhanana ngan asalna ti kulawarga miskin. Tapi, sanajan maranéhanana asalna ti kulawarga miskin, maranéhanana bisa berprestasi ngaleuwihan babaturanana anu leuwih sanggup dina sagi materi. Maranéhanana ogé meunangkeun beasiswa anu saterusna dipaké pikeun mantuan kolot maranéhanana.
Kagumbiraan si Pamajikan anu nempo barudakna tumuwuh badag ogé sirna. Sang salaki anu salila ieu marenganana ngurus Herman sarta Amin geus euweuh. Manéhna nalangsara panyakit anu pohara parna. Herman sarta Amin ogé kiwari jadi anak yatim. Tanaga pamajikan jadi andalan utama pikeun mengais rejeki. Herman sarta Amin ogé kapaksa meluangkan wayah maranéhanana sanggeus bersekolah pikeun digawé mantuan indungna. Maranéhanana pantang nyerah mantuan indung maranéhanana néangan napakah. Hal éta maranéhanana pigawé ambéh maranéhanana tetep bisa bersekolah.
Pamajikan sok meratapi nasibna sarta kulawargana, “Enya pangéran, naha kau jadikan hirup kami kawas ieu? Tunjukkeun dina kami sipat Maha Pengasih-mu enya pangéran. Pak, naha engkau kudu indit leuwih tiheula? Padahal kami di dieu masih pohara merlukeun anjeun.” Saur Pamajikan.
Sang pamajikan ogé pamustunganana pegat asa sarta leuwih milih pikeun mungkas hirupna. Kasedihan Herman sarta Amin ogé beuki nambahan. Henteu ngan kaleungitan kadua kolotna, tapi maranéhanana ogé kapaksa ngandeg sakola keur nyambung hirup. Tapi pangéran ngomong séjén. Henteu lila sanggeus Indungna Herman sarta Amin maot, aya hiji yayasan panti asuhan anu daék méré jaminan atikan sarta kaséhatan pikeun Herman sarta Amin.
Teu karasa maranéhanana geus lulus SD, maranéhanana lulus bari peunteunna alus. Sarta aya saurang balabah anu daék mengadopsi maranéhanana. Jelema éta téh Pak Broto, saurang pangusaha anu pohara suksés, tapi hanjakalna manéhna sarta pamajikanana henteu dipasihan anak. Herman sarta Amin kalayan gumbira narimana. Pak Broto sarta pamajikanana pohara reueus miboga anak kawas Herman sarta Amin. Maranéhanana mangrupa siswa berprestasi di sakolana. Pak Broto sarta pamajikanana sok ngawowoy Herman sarta Amin. Tapi sanajan kitu, Herman sarta Amin henteu terlena jeung kahirupan maranéhanana ayeuna.
Maranéhanana sok kainget baris jasa-jasa kolotna anu geus euweuh. Maranéhanana henteu kungsi ngamangpaatkeun kakayaan kolot angkat maranéhanana sacara kaleuleuwihan. Maranéhanana sok teringat-ingat kahirupan maranéhanana anu tiheula, hirup anu pinuh perjuangan, penderitaan, sarta kesabaran. Kolot anu sok ngawowoyna, kiwari geus euweuh.
“Min, sabenerna urang ieu jelema anu boga untung atawa rugi?” Tanya Herman dina Amin.
“Kuring ogé bingung kak, urang boga untung di adopsi ku jelema beunghar, tapi urang ogé rugi, sabab urang yatim pahatu.” Jawab Amin
“Lamun dititah milih, naha manéh milih kahirupan anu ayeuna, atawa anu tiheula?”
“Kuring pilih kahirupan anu tiheula.”
“Kunaon maneh milih kahirupan anu tiheula? Padahal tiheula éta urang jelema hésé, miskin, teu boga nanaon.”
“Tapi kahirupan urang anu tiheula laér leuwih bagja kak. Sanajan urang jelema miskin, tapi urang bagja hirup babarengan kolot kandung urang.”
“Lamun kuring leuwih milih kahirupan anu ayeuna Min. Ayeuna urang berkecukupan, daék naon ancik ménta dina ayah téré urang. Batan kahirupan urang tiheula, miskin, tunggara. Ayeuna kuring leuwih bagja Min.”
Saprak percakapan éta, Herman jadi terlena dina kakayaan ayah téréna éta. Béda kalayan adina, Amin masih bsa ngadalikeun diri sabot dirina dihadapkan dina kakayaan anu melimpah. Amin sok kainget dina kahirupanana tiheula, ku kituna manéhna henteu boga wayah pikeun mikiran kakayaanana.
Wayah ogé ngagulundung, 12 warsih berlalu, Herman sarta Amin geus berkeluarga. Maranéhanana hirup terpisah ayeuna. Sarta kiwari Pak Broto geus ngasupan umur senja, Fisikna ogé geus teu saalus tiheula, tong boro pikeun jalan-jalan, nangtung ogé manéhna geus teu sanggup. Dina hiji sabot, Herman sarta Amin babarengan kulawargana menjenguk ayah angkat maranéhanana Pak Broto.
“Teu karasaeun, ayah geus membesarkan maranéh nepi ka maranéh suksés ayeuna. Nak, ayah ieu geus kolot, ayah geus mustahil mingpin pausahaan ayah. Ayah baris serahkeun kakawasaan ayah dina anjeun, Herman. Sarta pikeun Amin, baris ayah bikeun taneuh salega 7 hektar. Kau bisa menanaminya buah atawa sayuran. Lamun kau daék, kau bisa ngawangun hiji hal diditu.” Kecap Pak Broto
“Mangga yah, kuring baris mingpin pausahaan ayah kalayan sebaik-baiknya. Pamustunganana kuring bisa mingpin pausahaan ayah.” Jawab Herman
“Alus ayah, kuring baris ngalaksanakeun amanat anjeun.” Jawab Amin
“Nak, jagalah amanat ayahmu alus-alus. Saéstuna teu aya deui anu bisa manéhna banggakan sajaba maranéh, anak anu shaleh. Ibu ménta dina maranéh, ngan maranéh harepan penerus kulawarga ieu.” Kecap Ibu Broto.
Teu lila sanggeus éta, tétéla pangéran menghendaki Pak Broto pikeun balik ka sisi-nya. Kaayaan kahanjelu ogé pohara karasaeun waktu éta. Ibu Broto pohara hanjelu begitupun jeung Herman sarta Amin. Maranéhanana teu kawasa nahan haru. Ayah angkat maranéhanana kudu ninggalkeun maranéhanana pikeun selama-lamanya.
“Enya pangéran, naha kau cokot salaki kuring? Kami di dieu masih merlukeunana.” Ratap Ibu Broto.
“Ayah, ulah tinggalkeun kami. Kami masih perlu bimbinganmu.” Kecap Herman.
“Sudahlah kak, urang teu sakuduna menangisi kepergian ayah. Tangisan mah ngan baris nyieunana resah di alam ditu.” Jawab Amin.
Alatan Ibu Broto geus pegat asa, mangka manéhna megatkeun pikeun cicing di panti jompo, alatan manéhna henteu hayang merepotkan Herman sarta Amin. Herman sarta Amin ogé hirup terpisah ayeuna. Teu aya deui tempat tujuan pikeun ngariung kawas baheula. Geus ampir 1 warsih Herman sarta Amin henteu silih papanggih. Maranéhanana ngan berbincang ngaliwatan pesawat telepon sapanon.
Herman ngarasa kurang jeung pausahaan anu ayah angkatnya bikeun. Manéhna hayang ngawasa sakumna harta kakayaan Pak Broto. Jeung haté anu terselimuti napsu, Herman boga rencana pikeun ngarebut kakayaan adina sorangan, Amin. Manéhna boga rencana membangkrutkan usaha Amin demi niat jahatnya.
“Jigana aya dua pilihan pikeun ngarebut kakawasaan Amin. Membangkrutkan usahana atawa maéhanana.”
Di séjén tempat, Amin masih berduka. Alatan bapana cikénéh maot. Manéhna henteu mikiran pakasabanana. Kebon anu dibikeun Pak Broto mimitian angar alatan Amin henteu ngurusna. Waktu Amin baris ngurus balik kebonna, ujug-ujug datanglah Herman.
“Hey Min, tempo kebon anjeun, geus ampir angar alatan kau ngan menangisi kepergian ayahmu. Leuwih alus bikeun kebon anjeun ka kuring.” Kecap Herman
“Tapi ieu amanat ayah angkat urang kak.” Jawab Amin
“Manéhna geus euweuh Min. Manéhna moal weruh lamun kau méré kabunmu dina kuring.”
“Tapi kak.”
“Ulah loba ngomong kau Min. Percuma kau ngabéla kebon anjeun ieu. Ayah angkatmu baris beuki hanjelu lamun kau teu bisa merawatnya.”
Alatan Amin henteu hayang aya perselisihan , manéhna kapaksa ngéléhan dina lanceukna. Manéhna mikeun kebon éta sapinuhna dina Herman. Kakayaan Herman ogé nambahan loba. Tapi hanjakalna, manéhna tacan ngarasa cukup kalayan naon anu manéhna dapatkan ayeuna. Manéhna boga rencana pikeun maéhan Amin sarta memuatkan surat wasiat palsu anu eusina yén sakumna kakayaan Amin baris dibikeun dina lanceukna, Herman. Niat jahat Herman beuki jadi sabot nyaho Amin keur gering parna.
“Ayeuna waktuna kau mati Amin. Kau teu pantas jadi jelema beunghar. Akulah anu pantas.”
Manéhna saterusna datang ka tempat di mana Amin dirawat. Awalna manéhna hamham dina ngajalankeun niatna. Tapi, panon haténa geus digelapkan ku gemerlapnya kakayaan dunya. Tanpa mikir, Herman langsung maéhan Amin, adi kembarnya sorangan anu salila ieu ngajalanan paitna kahirupan babarengan. Manéhna menghujamkan péso anu geus diolesi racun langsun ka jantung Amin. Amin ogé langsung maot di tempat.
“Pamustunganana kuring bisa ngawasa sakumna kakayaan anjeun Min. Kuring teu nyangka, ngan perlu saeutik tanaga pikeun melenyapkanmu. Sarta ayeuna, kuring junun nyingkahkeun anjeun.” Kedal Herman kalayan songong.
Pembunuhan éta teu kaungkab salila sawatara lila. Tapi Herman mimitian dihantui rasa boga salah anu amat dina ka Amin. Hirupna mimitian teu tenang. Sok aya bayangan mangsa leutikna babarengan Amin.
“Amin, maafkan lanceuk. Lanceuk geus dibutakan ku gemerlapnya kakayaan dunya. Lanceuk hanjakal Min.”
Sarta dina pamustunganana Herman megatkeun pikeun méré sakumna hartana pikeun jalma-jalma anu kurang sanggup. Sarta manéhna mikeun dirina ka pulisi luhur perkara pembunuhan ka Amin.
Bahasa sunda nya ngaco abis (nerjemahin pake situs terjemahan sih...)!
Sabtu, 28 Mei 2011
YoYo Performance #curcol
Hari sabtu tgl 28 Mei 2001, Gue, Nurul, Fajar, dan Meigha Fajar (cowok) perform di acaranya radio **S di Subang. Awalnya gue menyambut baik tawaran main itu, tapi setelah gue tanya2 lagi ama EO nya, eeeeeeh ternyata perform kita cuma ngiringin yg MD doang (T.T)
Kita gak tau lagunya, durasinya, temponya (apalagi). 4 jam sblm perform, gue baru tau lagunya. Pas gue dengerin tuh lagu, "A*****! lagu apaan nih? gak ada ruang buat YoYo-nya." kata gue. Setengah jam sblm perform, gue terpaksa gak maen DiaBolo (baca: Bukan BOLO-BOLO) gara2 gak ada talinya.
5 menit sblm perform, gue ama Fajar nungguin si Nurul ama si Meigha. Pas mereka dateng, gue langsung mengawali performance dgn formasi gue di dpn, Fajar, Nurul, baru si Meigha (kalo gak salah). Baru juga 2 ato 3 menit, Lagu dari laptop yg disediain EO-nya lsg berenti (belon lunas kali yeeee...). Para YoYo spinner dan dancer pun kaget dan kecewa. "B*******!!! maunya apa sih nih EO? mau gua timpuk pake DiaBolo apa?" geram gue dalem ati (kalo teriak, takut dikeroyok gue).
Selang 15 menit, Para dancer trnyta udah siap lagi di dpn panggung. Gue dan temen2, lsg menyiapkan strategi supaya perform YoYo kita, lebih dilihat daripada dancernya. Setelah beberapa menit, gue memutuskan untuk lompat dari panggung setinggi (krng lebih) 150 cm-an dan mendarat dgn kedua tumit gue. Gue langsung ambil inisiatif buat maen YoYo sambil duduk (padahal masih nahan sakit). "Addduh, gue kira gak bakal sekenceng itu jatuhnya. Sakit bgt nih, keseleo gak yah?" ucapku perlahan.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Udah kaki gue sakit, eh giliran YoYo gue yg bermasalah. Tali YoYo gue nge-Jam (kusut). Otomatis gue langsung minggir dan benerin dulu YoYo nya (lupa gak bawa cadangan). "Hey, turun semua!!!" teriak gue ke temen2, nyuruh mereka gantiin posisi gue. Setelah semua masalah YoYo gue selesai, gue langsung mendekati penonton dan ber 'Eli Hop' (nama trick YoYo) ria.
Setelah perform, gue langsung kembali ke 'Back Stage' dan mengambil air minum. Yg bikin gue tambah kesel lagi, tiba2 panitianya dateng trus bilang, "Udah kan perform-nya?". Gue ama temen2 cuma manggut2 doang. "Oooh, kalo gitu jangan disini aja kasian yg belom perform, jadi sempit. Mending diluar aja." Tambah tuh panitia dengan santainya. "Jar, tuh orang berani bgt yh ngusir kita? Gue kesel dengernya." ucap gue pada Fajar. "Udah lah, namanya juga 'gak punya otak'." Jawab Fajar.
Thank you.
Kita gak tau lagunya, durasinya, temponya (apalagi). 4 jam sblm perform, gue baru tau lagunya. Pas gue dengerin tuh lagu, "A*****! lagu apaan nih? gak ada ruang buat YoYo-nya." kata gue. Setengah jam sblm perform, gue terpaksa gak maen DiaBolo (baca: Bukan BOLO-BOLO) gara2 gak ada talinya.
5 menit sblm perform, gue ama Fajar nungguin si Nurul ama si Meigha. Pas mereka dateng, gue langsung mengawali performance dgn formasi gue di dpn, Fajar, Nurul, baru si Meigha (kalo gak salah). Baru juga 2 ato 3 menit, Lagu dari laptop yg disediain EO-nya lsg berenti (belon lunas kali yeeee...). Para YoYo spinner dan dancer pun kaget dan kecewa. "B*******!!! maunya apa sih nih EO? mau gua timpuk pake DiaBolo apa?" geram gue dalem ati (kalo teriak, takut dikeroyok gue).
Selang 15 menit, Para dancer trnyta udah siap lagi di dpn panggung. Gue dan temen2, lsg menyiapkan strategi supaya perform YoYo kita, lebih dilihat daripada dancernya. Setelah beberapa menit, gue memutuskan untuk lompat dari panggung setinggi (krng lebih) 150 cm-an dan mendarat dgn kedua tumit gue. Gue langsung ambil inisiatif buat maen YoYo sambil duduk (padahal masih nahan sakit). "Addduh, gue kira gak bakal sekenceng itu jatuhnya. Sakit bgt nih, keseleo gak yah?" ucapku perlahan.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Udah kaki gue sakit, eh giliran YoYo gue yg bermasalah. Tali YoYo gue nge-Jam (kusut). Otomatis gue langsung minggir dan benerin dulu YoYo nya (lupa gak bawa cadangan). "Hey, turun semua!!!" teriak gue ke temen2, nyuruh mereka gantiin posisi gue. Setelah semua masalah YoYo gue selesai, gue langsung mendekati penonton dan ber 'Eli Hop' (nama trick YoYo) ria.
Setelah perform, gue langsung kembali ke 'Back Stage' dan mengambil air minum. Yg bikin gue tambah kesel lagi, tiba2 panitianya dateng trus bilang, "Udah kan perform-nya?". Gue ama temen2 cuma manggut2 doang. "Oooh, kalo gitu jangan disini aja kasian yg belom perform, jadi sempit. Mending diluar aja." Tambah tuh panitia dengan santainya. "Jar, tuh orang berani bgt yh ngusir kita? Gue kesel dengernya." ucap gue pada Fajar. "Udah lah, namanya juga 'gak punya otak'." Jawab Fajar.
"Dan mulai saat itu, gue coba gak bakalan emosian kalo lagi perform YoYo. Dan gue mulai males dgn tawaran2 yg cuma jadiin YoYo itu selingan ato pengiring ato apalah namanya."
Thank you.
Langganan:
Postingan (Atom)

































